Yogyakarta, 25 Oktober 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan perannya sebagai pelopor inovasi riset berkelanjutan dengan menghadirkan solusi berbasis teknologi geospasial untuk pemerataan akses pendidikan di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Sekolah Vokasi dan Fakultas Geografi, tim peneliti UGM mengembangkan model analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang mampu meningkatkan keadilan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berbasis domisili di Kota Yogyakarta.
SIG
Yogyakarta – Inovasi kebijakan pendidikan di Kota Yogyakarta mendapat perhatian melalui penerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berbasis domisili spasial, yang didukung oleh Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem ini menggantikan skema zonasi administratif yang selama ini dinilai rawan manipulasi dan tidak adil. Inovasi ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 dan 16, yaitu pendidikan berkualitas dan pemerintahan yang transparan dan inklusif.
Dalam publikasi ilmiahnya di Majalah Geografi Indonesia, Taufik Hery Purwanto dari Departemen Teknologi Kebumian UGM menjelaskan bahwa SPMB 2025 di Kota Yogyakarta menggunakan data koordinat domisili siswa yang divalidasi secara spasial, untuk memastikan jarak tempat tinggal ke sekolah ditentukan secara objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis SIG mampu memetakan distribusi akses pendidikan secara lebih adil, mengurangi celah manipulasi dokumen, dan memberikan bukti spasial bagi pengambilan kebijakan.
