Yogyakarta, 8 Januari 2026 – Delapan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Sistem Informasi Geografis (SIG), Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada berkontribusi langsung dalam Program Ekspedisi Patriot yang diselenggarakan oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia pada Agustus hingga Desember 2025.
Melalui kegiatan Kerja Praktik ini, mahasiswa diterjunkan ke empat kawasan transmigrasi strategis di Indonesia, yakni Bena (Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur), Hialu (Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara), Muting (Kabupaten Merauke, Papua Selatan), dan Lokus Patek (Kabupaten Aceh Jaya, Aceh).
Mahasiswa yang terlibat yaitu Yellove Devitaraja dan Alia Maulana Resti (Bena, NTT); Hafizh Vergiansyah dan Digita Fadelia Agni (Hialu, Konawe Utara); Harits Nuraga Padika dan Trisna Diah Ayu Wulandari (Muting, Merauke); serta Dhimar Fadhilansyah Darojat dan Laila Nur Azizah (Lokus Patek, Aceh Jaya).
Kegiatan ini menjadi wujud nyata implementasi pembelajaran berbasis praktik lapangan yang aplikatif dan kolaboratif. Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam Program Ekspedisi Patriot, kegiatan ini tidak hanya memperkuat kompetensi teknis mahasiswa sebagai bagian dari pendidikan vokasi yang berkualitas (SDG 4 – Pendidikan Berkualitas), tetapi juga mencerminkan kemitraan strategis dalam mendukung pembangunan nasional (SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Secara substansial, kegiatan ini mendukung pembangunan kawasan transmigrasi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan sesuai agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Analisis Spasial untuk Penguatan Ketahanan Pangan dan Infrastruktur Wilayah
Bena – Timor Tengah Selatan, NTT
Gambar 1. Dokumentasi survei lapangan dan hasil pemetaan administrasi Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Di Kawasan Transmigrasi Bena, mahasiswa menyusun basis data geospasial terintegrasi melalui kompilasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), peta administrasi, dan statistik wilayah, digitasi batas Satuan Permukiman (SP), interpretasi citra satelit, serta penyusunan geodatabase tematik terstruktur. Survei lapangan menggunakan perangkat GNSS dilakukan untuk memvalidasi fasilitas umum dan infrastruktur dasar.
Gambar 2. Dokumentasi kegiatan lapangan dan hasil pemetaan komoditas unggulan pertanian dan perkebunan Kawasan Transmigrasi Bena, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Analisis teknis meliputi identifikasi pola penggunaan lahan, analisis kesesuaian lahan pertanian dengan metode weighted overlay (kemiringan lereng, jenis tanah, ketersediaan air), serta analisis aksesibilitas jaringan jalan dan layanan dasar. Hasil kajian menunjukkan potensi pengembangan pertanian lahan kering dan peternakan, namun masih terkendala konektivitas jalan produksi dan pengelolaan sumber daya air.
Gambar 3. Dokumentasi kegiatan FGD bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan (dinas-dinas terkait), warga transmigran, pemerintah kecamatan, dan kepala desa UPT Transmigrasi di Kawasan Transmigrasi Bena, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Rekomendasi yang dihasilkan berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan (SDG 2 – Tanpa Kelaparan) serta peningkatan kesejahteraan masyarakat transmigran melalui optimalisasi potensi ekonomi lokal (SDG 1 – Tanpa Kemiskinan).
Hialu – Konawe Utara, Sulawesi Tenggara
Gambar 4. Kompilasi peta hasil analisis Tim Ekspedisi Patriot di Kawasan Transmigrasi Hialu, Kabupaten Konawe Utara, meliputi peta unit permukiman, peta jenis tanah, peta klasifikasi tutupan lahan menggunakan metode Random Forest, serta peta rata-rata iklim periode 2015–2025 berdasarkan analisis Oldeman (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Di Kecamatan Hialu, mahasiswa melakukan evaluasi spasial Kawasan Transmigrasi Hialu melalui pengolahan Digital Elevation Model (DEM) untuk menghasilkan peta kemiringan lereng, interpretasi penggunaan lahan aktual, serta analisis kesesuaian lahan berbasis overlay berbobot. Geodatabase kawasan disusun sebagai basis analisis terintegrasi.
Gambar 5. Wawancara dan observasi hasil pertanian masyarakat transmigran di Kawasan Transmigrasi Hialu, Kabupaten Konawe Utara, serta penyusunan peta jaringan jalan, prasarana listrik dan air bersih, serta zona agroekologi (Foto: Tim Ekspedisi Patriot Hialu 2025).
Analisis aksesibilitas internal kawasan terhadap jaringan jalan produksi dilakukan untuk menilai efisiensi distribusi hasil komoditas pertanian. Kajian menunjukkan variasi kelas kesesuaian lahan antarblok kawasan; sebagian wilayah berpotensi untuk pertanian dan perkebunan, namun menghadapi kendala topografi bergelombang serta keterbatasan infrastruktur.
Gambar 6. Dokumentasi Tim Ekspedisi Patriot bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Utara serta kegiatan survei potensi pengembangan destinasi wisata Goa Tengkorak Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Rekomendasi peningkatan konektivitas dan infrastruktur produksi mendukung pembangunan infrastruktur yang tangguh dan produktif (SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), sekaligus mengurangi kesenjangan akses antarwilayah dalam kawasan transmigrasi (SDG 10 – Berkurangnya Kesenjangan).
Optimalisasi Lahan dan Pemerataan Akses Layanan Dasar
Muting – Merauke, Papua Selatan
Gambar 7. Dokumentasi Tim Ekspedisi Patriot Muting–Merauke, Papua Selatan, serta hasil pemetaan kondisi jalan dan sebaran kawasan transmigrasi disertai dokumentasi lapangan (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Di Distrik Muting, mahasiswa menyusun dan memperkuat basis data spasial kawasan transmigrasi melalui kompilasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), jaringan jalan, dan data statistik wilayah, disertai proses georeferensi peta analog serta validasi lapangan menggunakan GNSS. Data tersebut diintegrasikan dalam geodatabase terstruktur untuk analisis berbasis SIG.
Gambar 8. Dokumentasi survei lapangan, penyusunan peta tematik aksesibilitas fasilitas pelayanan, serta pelaksanaan FGD sebagai bagian dari kajian pengembangan kawasan di Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Gambar 9. Peta komoditas unggulan tanaman pangan dan perkebunan, peta aksesibilitas pasar, serta dokumentasi survei lapangan dan wawancara dengan petani cabai dan lada di Distrik Sota dan Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Analisis kesesuaian lahan pertanian dilakukan dengan metode weighted overlay, sedangkan network analysis digunakan untuk mengukur aksesibilitas menuju fasilitas pendidikan, kesehatan, dan pasar. Selain itu, dilakukan identifikasi lahan belum optimal (underutilized land) untuk mendukung strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.
Gambar 10. Peta kerawanan bencana dan peta analisis kesenjangan fasilitas pendidikan dan kesehatan di kawasan transmigrasi, disertai dokumentasi kegiatan Penerimaan Tim Ekspedisi Patriot oleh Bupati Merauke, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Kajian ini menunjukkan variasi tingkat kesesuaian lahan antar Satuan Permukiman (SP) serta ketimpangan akses terhadap layanan dasar. Rekomendasi difokuskan pada optimalisasi pemanfaatan lahan sesuai daya dukungnya dan peningkatan konektivitas jalan produksi, sehingga mendukung pengembangan permukiman yang inklusif dan berkelanjutan (SDG 11 – Kota dan Permukiman Berkelanjutan) serta pemerataan pembangunan wilayah timur Indonesia (SDG 10).
Perencanaan Kawasan Tangguh dan Adaptif terhadap Risiko Lingkungan
Lokus Patek – Aceh Jaya, Aceh
Gambar 11. Dokumentasi kegiatan survei lapangan dan pemetaan menggunakan drone di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Di Kawasan Transmigrasi Lokus Patek, mahasiswa melaksanakan evaluasi spasial komprehensif melalui kompilasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), digitasi batas kawasan, serta penyusunan geodatabase tematik. Survei lapangan dilakukan di Desa Gunong Meunasah dan Desa Paya Laot untuk memvalidasi fasilitas umum, jaringan jalan, dan kondisi permukiman.
Gambar 12. Dokumentasi kegiatan lapangan serta peta hasil analisis kawasan transmigrasi di Patek, Kabupaten Aceh Jaya, meliputi peta kerawanan bencana, penggunaan lahan, sumber daya air, dan jenis tanah (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Gambar 13. Dokumentasi kegiatan survei lapangan dan kunjungan ke sentra tanaman nilam yang berpotensi menjadi komoditas unggulan kawasan transmigrasi, disertai pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan penyusunan peta analisis aksesibilitas pasar (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Analisis meliputi network analysis aksesibilitas pasar dan layanan publik, evaluasi penggunaan lahan berbasis interpretasi citra satelit, analisis kesesuaian lahan, serta pemetaan kerawanan lingkungan dan potensi bencana sebagai bagian dari evaluasi daya dukung kawasan.
Gambar 14. Tim Ekspedisi Patriot bersama Bupati Aceh Jaya dan Dinas Sosial, Transmigrasi, dan Tenaga Kerja Provinsi Aceh (Foto: Tim Ekspedisi Patriot 2025).
Hasil kajian menunjukkan variasi aksesibilitas antarblok permukiman dan perbedaan tingkat risiko lingkungan. Rekomendasi diarahkan pada peningkatan kualitas jaringan jalan, pemerataan layanan air bersih, serta penguatan mitigasi bencana berbasis data spasial. Pendekatan ini mendukung terwujudnya permukiman yang aman dan tangguh (SDG 11) sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem daratan (SDG 15 – Ekosistem Daratan).
Luaran dan Kontribusi Strategis
Di seluruh lokasi, mahasiswa menghasilkan paket peta tematik operasional meliputi administrasi Satuan Permukiman (SP), penggunaan lahan, kesesuaian lahan, jaringan infrastruktur, aksesibilitas layanan, hingga potensi komoditas unggulan. Seluruh luaran disusun dalam format geodatabase terstruktur untuk mendukung perencanaan kawasan transmigrasi berbasis bukti (evidence-based planning).
Kolaborasi antara Program Studi SIG DTK SV UGM dan Kementerian Transmigrasi melalui Program Ekspedisi Patriot memperlihatkan bagaimana kemitraan antara institusi pendidikan dan pemerintah dapat mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDG 17). Pada saat yang sama, keterlibatan mahasiswa dalam proyek nyata berskala nasional menjadi bagian dari implementasi pendidikan vokasi berbasis pengalaman (experiential learning) yang memperkuat kualitas lulusan (SDG 4).
Kegiatan ini menegaskan komitmen Program Studi Sarjana Terapan SIG DTK SV UGM dalam mencetak lulusan yang adaptif, profesional, dan mampu menghadirkan solusi pembangunan berbasis data dan teknologi geospasial bagi Indonesia.
Kontak:
Program Studi Sarjana Terapan Sistem Informasi Geografis
Departemen Teknologi Kebumian
Sekolah Vokasi UGM
Email: str-sig.sv@ugm.ac.id
Telepon: (0274) 551255 ; +6285740262040
Website: sig.sv.ugm.ac.id













